dinamika rumor

bagaimana informasi terdistorsi seiring berpindah tangan

dinamika rumor
I

Pernahkah kita bermain pesan berantai saat masih duduk di bangku sekolah dasar?

Permainannya sangat sederhana. Kita berbisik ke telinga teman di sebelah kita, lalu ia meneruskannya ke teman sebelahnya, dan begitu terus sampai ke orang terakhir di ujung barisan. Biasanya, kalimat awal yang berbunyi "Budi beli bubur ayam di pasar" akan berubah menjadi sesuatu yang absurd seperti "Budi dikubur ayam kesasar".

Saat itu, kita semua tertawa terbahak-bahak. Ini adalah permainan yang menyenangkan. Tapi, mari kita bayangkan sejenak. Bagaimana jika pesan berantai ini terjadi di dunia nyata, dengan topik yang jauh lebih serius, dan melibatkan ribuan orang di media sosial?

Tiba-tiba, hal ini tidak lagi terdengar lucu. Rumor, gosip, atau hoax yang beredar di masyarakat sebenarnya adalah permainan pesan berantai berskala masif. Dan seringkali, ujung dari pesan tersebut bisa menghancurkan reputasi, memicu kepanikan massal, bahkan menyulut konflik berdarah.

II

Kita sering kali terlalu percaya diri dengan ingatan kita. Kita menganggap otak kita bekerja seperti kamera CCTV beresolusi tinggi. Kita yakin bahwa kita merekam kejadian, atau informasi yang kita baca, persis seperti aslinya.

Sayangnya, sains neurobiologi dan psikologi berkata lain. Memori kita sama sekali tidak mirip kamera perekam. Memori kita lebih mirip seorang editor film amatir yang suka memotong adegan seenaknya, lalu menempelkannya kembali dengan asal-asalan demi membuat jalan cerita yang lebih dramatis.

Sejak zaman dahulu, dinamika rumor ini selalu menjadi momok yang menakutkan. Pada masa Perang Dunia II, pemerintah di berbagai negara sampai membuat divisi khusus untuk mengendalikan rumor. Mereka sadar betul bahwa satu desas-desus tentang kekalahan atau kelangkaan pangan bisa menghancurkan moral prajurit lebih cepat daripada peluru musuh.

Namun, pertanyaan terbesarnya adalah: kenapa informasi bisa terdistorsi sedemikian rupa saat berpindah tangan? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat kita mendengar sebuah kabar burung dan menceritakannya kembali ke teman kita?

III

Untuk menjawab misteri ini, mari kita mundur sejenak ke tahun 1947.

Dua orang psikolog terkemuka, Gordon Allport dan Joseph Postman, melakukan sebuah eksperimen legendaris mengenai psikologi rumor. Eksperimen mereka sangat sederhana, namun hasilnya mengguncang dunia akademik.

Mereka mengumpulkan sekelompok sukarelawan. Sukarelawan pertama diminta melihat sebuah gambar ilustrasi yang menunjukkan suasana di dalam gerbong kereta api bawah tanah. Di dalam gambar tersebut, ada beberapa detail spesifik. Sukarelawan pertama lalu diminta menceritakan apa yang ia lihat kepada sukarelawan kedua yang tidak melihat gambar itu. Sukarelawan kedua menceritakannya ke orang ketiga, dan terus berlanjut hingga orang keenam.

Pada saat cerita itu sampai ke telinga orang keenam, deskripsi tentang gambar tersebut sudah berubah total. Fakta-fakta penting hilang, sementara detail-detail yang tidak pernah ada tiba-tiba muncul. Ceritanya menjadi sangat berbeda dan, dalam beberapa aspek, sangat meresahkan.

Allport dan Postman menyadari bahwa distorsi ini bukan sekadar karena orang-orang tersebut pelupa. Ada sebuah sistem yang bekerja secara otomatis di bawah alam sadar. Mereka menemukan bahwa setiap kali informasi berpindah tangan, otak kita diam-diam melakukan tiga "trik sulap" psikologis. Dan satu dari tiga trik ini adalah alasan utama mengapa kebencian sangat mudah menyebar.

IV

Inilah tiga proses utama bagaimana otak kita merusak informasi.

Trik pertama disebut Leveling (perataan). Otak kita pada dasarnya pemalas dan selalu ingin menghemat energi. Saat kita mendengar cerita yang panjang, otak akan membuang detail-detail yang dianggap rumit atau tidak penting. Informasi menjadi lebih pendek, lebih datar, dan banyak konteks asli yang menguap begitu saja.

Trik kedua adalah Sharpening (penajaman). Setelah informasi dipotong-potong, otak butuh sesuatu untuk menahan perhatian. Jadi, otak kita secara otomatis akan memilih satu atau dua detail kecil yang paling sensasional, lalu membesar-besarkannya. Angka kerugian yang awalnya jutaan, tiba-tiba diceritakan menjadi miliaran.

Lalu, tibalah kita pada trik ketiga, yang paling berbahaya: Assimilation (asimilasi). Di tahap inilah emosi, bias, dan prasangka pribadi kita ikut campur. Kita akan mengubah cerita agar sesuai dengan apa yang sudah kita percayai sebelumnya.

Dalam eksperimen kereta api Allport dan Postman tadi, gambar aslinya menunjukkan seorang pria kulit putih memegang pisau cukur, sedang berdiri di dekat pria kulit hitam yang berpakaian rapi. Namun, tebak apa yang terjadi di akhir pesan berantai? Karena kuatnya rasisme dan stereotip rasial di Amerika pada era tersebut, cerita di ujung barisan berubah drastis: pria kulit hitamlah yang diceritakan memegang pisau dan mengancam pria kulit putih.

Otak para sukarelawan secara otomatis mengedit memori mereka agar sesuai dengan prasangka sosial yang ada di kepala mereka. Rumor bukan sekadar informasi yang memudar, teman-teman. Rumor adalah cermin dari ketakutan dan prasangka terdalam kita.

V

Jadi, apa artinya semua ini bagi kita sekarang?

Di era grup chat keluarga dan media sosial yang bergerak secepat kilat, ketiga proses ini—leveling, sharpening, assimilation—terjadi jutaan kali setiap detiknya. Kita membaca sebuah judul berita yang sensasional, melupakan konteksnya, melebih-lebihkan isinya, dan menyebarkannya karena itu membenarkan opini politik atau sosial kita.

Memahami sains di balik rumor ini seharusnya menumbuhkan empati di dalam diri kita. Kita semua rentan terhadap jebakan ini. Saya, teman-teman, kita semua. Tidak perlu merasa paling suci atau buru-buru menghina orang lain yang tidak sengaja menyebarkan hoax. Otak manusia memang didesain secara evolusioner untuk memiliki celah tersebut.

Namun, bukan berarti kita tidak berdaya. Justru dengan mengetahui kelemahan otak ini, kita bisa mengambil kendali.

Lain kali, saat kita menerima informasi yang sangat memancing emosi—entah itu membuat kita sangat marah, takut, atau terlalu gembira—tarik napas sejenak. Sadarilah bahwa informasi itu mungkin sudah melewati proses potong-sambung dari puluhan orang sebelumnya. Jangan buru-buru menekan tombol share.

Mari kita latih diri kita untuk menjadi pemutus rantai rumor. Karena terkadang, tindakan paling heroik yang bisa kita lakukan di era digital ini hanyalah diam sejenak, mengecek fakta, dan tidak ikut-ikutan menyebarkan kepanikan.